26 Juni 2017 | Satu tahun berlalu, tapi gue tetap tidak akan menyerah

26 Juni 2017

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Gak kerasa udah setahun dari lebaran tahun lalu sampai lebaran tahun ini. Di waktu yang sesingkat itu banyak sekali pemahaman tentang kehidupan yang gue dapatkan. Jujur saja, segala hal yang udah gue rencanakan setelah lulus sekolah gak ada satupun yang jadi nyata. Semua yang gue lakukan selalu berakhir dengan kegagalan. Bisa dibilang berputar 180 derajat. Tapi, dari semua itu gue malah dapat bnyk sekali pelajaran tentang kehidupan. Ketulusan, kesetiaan, pertemanan, dan lain-lain yang membuat gue lebih dewasa. Meskipun sering jatuh dan diremehkan orang lain, tapi gue tidak pernah melupakan apa cita-cita yang udah gue bangun dari dulu.

Ada seseorang yang bilang kalau cita-cita gue itu tidak realistis untuk orang seperti gue. Kesulitan dan kegagalan yang sering gue dapatkan membuatnya tidak percaya dengan gue. Tapi itu tidak akan mengurangi sedikitpun tekad gue untuk mencapainya. Gue mencoba bertanya kepada 20 orang yang gue kenal dan meminta pendapat, pilihan mana yang menurut mereka harus gue tempuh. Yang pertama tentang cita-cita gue dan yang kedua tentang menjalani hidup biasa seperti orang-orang pada umumnya. 18 dari 20 orang yang gue tanya menyarankan gue untuk berhenti dan menjalani kehidupan seperti yang lain saja (pilihan kedua). Tentu gue tidak puas dengan jawaban seperti itu. Lalu, gue mencari lagi dan bertemu 2 orang ini. Yang satu adalah sahabat gue yang selalu membantu disaat kesulitan, gue sangat menghargai orang ini, dia selalu percaya dan mendukung segala keputusan gue. Dia adalah orang yang gue percaya.
Yang kedua, dia adalah teman SMA yang tidak sengaja bertemu lagi ketika sedang makan di suatu tempat. Bisa dibilang hidup kami berbeda dan dia juga kuliah di salah satu univ swasta yang maju. Kami saling bertukar pikiran dan dia banyak mengatakan hal-hal yang sama seperti di pikiran gue. Hingga akhirnya dia mengatakan "sif, seharusnya lu bangga punya cara berpikir yang beda dari anak-anak lain. Kalo gue jadi lu, gue akan nerusin ngejar cita-cita lu!" Kata-kata itu mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang. Tapi, bagi gue kata-kata tersebut adalah suatu yang langka. Ketika mendengarnya gue merasa senang karena masih ada yang memercayai mimpi gue. Dan itu membuat gue merasa tidak sendirian. Selama ini setiap kali terjatuh gue selalu pergi ke suatu tempat yang sepi dan memotivasi diri gue sendiri untuk kembali tenang dan terus bangkit. Gue selalu sendiri. Tapi, gue tidak pernah menyerah mencapainya meski terasa sulit. Jatuh pun gue akan tetap tertawa, karena gue pikir kegagalan akan membuat gue lebih cepat mencapainya.

Sekarang setelah lebaran ini gue akan lebih fokus untuk mengejar cita-cita. Mungkin akan mengorbankan sedikit waktu bermain dengan teman-teman. Tapi, gue janji secepatnya akan kembali lagi. Gue menganggap mereka semua seperti keluarga. Seperti saudara. Mereka termasuk orang-orang yang gue anggap spesial di hidup ini meski sering kali kami salah paham.

Sekarang di depan sana mungkin masih banyak tantangan yang menunggu gue. Mungkin akan lebih keras dari sebelumnya. Tapi gue akan tetap menghadapinya satu per satu. Gue tau untuk sukses tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan. Semua butuh proses, tidak instan. Gue akan tetap melangkah untuk tau hasilnya. Satu hal yang akan selalu gue tanamkan dalam pikiran "Bangkit lagi sif! Teruskanlah! Jangan patah semangat apapun yang terjadi! Jangan takut untuk memulai lagi dan jangan takut untuk gagal! Bangkit lagi sif! Teruskanlah! Jangan patah semangat apapun yang terjadi! Jangan takut untuk memulai lagi dan jangan takut untuk gagal!"

Terakhir ada sebuah kata yang pernah saya dengar seperti ini

"Berhenti adalah kebiasaan orang-orang gagal. Ketika anda berhenti saat menemui kesulitan, anda akan selalu berhenti ketika keadaan memburuk. Sebagai akibatnya anda akan membuat pola kegagalan ketimbang pola untuk sukses."

Comments

Popular Posts