18 Juni 2017 | Pulang Kampung
18 JUNI 2017
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Akhirnya gue pulang kampung...
Setelah sebelumnya gue berpikir untuk tidak pulang kampung tapi sekarang tidak ada pilihan lain.
Tapi gue tidak pulang untuk menetap di kampung. Setelah lebaran selesai, gue berencana balik lagi ke Cikarang.
Sekarang gue tidak punya pilihan karena 6 hari yang lalu Ayah dan keluarga gue dr kampung pergi ke Cikarang untuk membereskan masalah kontrakan yang lama.
Namun, setelah masalah itu selesai Ayah gue tidak ikut pulang bersama Ibu dan kakak gue ke kampung.
Ayah gue tetap disini dan berencana pulang membawa motor yang selama ini selalu menemani gue berjuang.
Ibu dan kakak gue sudah pulang terlebih dahulu menggunakan mobil pribadi.
Tentu saja gue sedikit bersedih mengingat Ayah akan membawa motor yang selalu berjuang bersama gue dengannya. Itu berarti setelah lebaran gue tidak bisa lagi menggunakan motor itu.
Tapi tidak ada pilihan lain, dengan kondisi seperti ini gue tidak bisa merawat motor itu dengan baik.
Dan setelah 5 hari berlangsung, Ayah meminta gue ikut pulang bersamanya. Sebenarnya gue bisa menolak jika mau.
Tapi, gue tidak mungkin membiarkan Ayah gue yang sudah berumur 60 tahun mengendarai motor sendirian dari Cikarang ke Semarang. Gue tidak akan setega itu.
Lagi-lagi gue tidak punya pilihan lain. Pada hari minggu setelah subuh kami berangkat.
Perjalanan kurang lebih 10 jam kami tempuh hingga pada jam setengah 5 sore kami sampai. Sekarang gue sudah di Kampung.
Gue harus beradaptasi lagi dengan lingkungan disini. Ya, gue harus beradaptasi lagi.
Sudah hampir 10 tahun ini kampung gue berpindah-pindah. Dari kampung pertama di Juwana, lalu pindah ke Pati, pindah lagi ke Kudus, hingga sekarang berpindah lagi ke Semarang.
Semarang menjadi kampung gue yang ke-4. Hahaha awalnya gue tidak menyangka hidup kami akan seperti ini.
Setelah pindah dari kampung pertama kami tidak lagi memiliki rumah yang pasti. Tepatnya setelah orang tua gue bangkrut.
Kami menjalani hidup yang cukup sulit setelahnya. Tetapi, Ayah dan Ibu tidak pernah menyerah membesarkan kami anak-anaknya.
Memiliki 10 anak bukanlah tanggungan yang kecil bagi seorang Ayah dan Ibu. Gue sering lihat Ayah gue sangat bekerja keras untuk membiayai sekolah kami.
Gue tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya menjadi Ayah gue yang selalu ditekan sana-sini.
Karena itu juga sejak kelas 2 SMA gue sudah memutuskan untuk tidak lagi bergantung sedikit pun dari orang tua.
Apalagi soal uang, gue tidak mau lagi meminta kepada mereka setelah itu.
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Akhirnya gue pulang kampung...
Setelah sebelumnya gue berpikir untuk tidak pulang kampung tapi sekarang tidak ada pilihan lain.
Tapi gue tidak pulang untuk menetap di kampung. Setelah lebaran selesai, gue berencana balik lagi ke Cikarang.
Sekarang gue tidak punya pilihan karena 6 hari yang lalu Ayah dan keluarga gue dr kampung pergi ke Cikarang untuk membereskan masalah kontrakan yang lama.
Namun, setelah masalah itu selesai Ayah gue tidak ikut pulang bersama Ibu dan kakak gue ke kampung.
Ayah gue tetap disini dan berencana pulang membawa motor yang selama ini selalu menemani gue berjuang.
Ibu dan kakak gue sudah pulang terlebih dahulu menggunakan mobil pribadi.
Tentu saja gue sedikit bersedih mengingat Ayah akan membawa motor yang selalu berjuang bersama gue dengannya. Itu berarti setelah lebaran gue tidak bisa lagi menggunakan motor itu.
Tapi tidak ada pilihan lain, dengan kondisi seperti ini gue tidak bisa merawat motor itu dengan baik.
Dan setelah 5 hari berlangsung, Ayah meminta gue ikut pulang bersamanya. Sebenarnya gue bisa menolak jika mau.
Tapi, gue tidak mungkin membiarkan Ayah gue yang sudah berumur 60 tahun mengendarai motor sendirian dari Cikarang ke Semarang. Gue tidak akan setega itu.
Lagi-lagi gue tidak punya pilihan lain. Pada hari minggu setelah subuh kami berangkat.
Perjalanan kurang lebih 10 jam kami tempuh hingga pada jam setengah 5 sore kami sampai. Sekarang gue sudah di Kampung.
Gue harus beradaptasi lagi dengan lingkungan disini. Ya, gue harus beradaptasi lagi.
Sudah hampir 10 tahun ini kampung gue berpindah-pindah. Dari kampung pertama di Juwana, lalu pindah ke Pati, pindah lagi ke Kudus, hingga sekarang berpindah lagi ke Semarang.
Semarang menjadi kampung gue yang ke-4. Hahaha awalnya gue tidak menyangka hidup kami akan seperti ini.
Setelah pindah dari kampung pertama kami tidak lagi memiliki rumah yang pasti. Tepatnya setelah orang tua gue bangkrut.
Kami menjalani hidup yang cukup sulit setelahnya. Tetapi, Ayah dan Ibu tidak pernah menyerah membesarkan kami anak-anaknya.
Memiliki 10 anak bukanlah tanggungan yang kecil bagi seorang Ayah dan Ibu. Gue sering lihat Ayah gue sangat bekerja keras untuk membiayai sekolah kami.
Gue tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya menjadi Ayah gue yang selalu ditekan sana-sini.
Karena itu juga sejak kelas 2 SMA gue sudah memutuskan untuk tidak lagi bergantung sedikit pun dari orang tua.
Apalagi soal uang, gue tidak mau lagi meminta kepada mereka setelah itu.

Comments